Tuesday, 17 February 2026

Tentang Jarak

 Tentang Jarak. 


Ditahun 2018, Kita sama sama mati *aku dan bapaku. Namun cuma bapak yang dikubur dan aku tidak. saat itu aku sudah gak bisa mengekspresikan kesedihan lagi. kayak ada blackhole dihatiku.

Sedangkan aku menjalani hari kala itu seperti dilahirkan kembali sebagai seorang yang kerdil, tak dianggap oleh dunia, dibiarkan hidup sendirian, tanpa bekal dan senjata untuk melawan kerasnya dunia, tak punya siapa-siapa except one person.

Dia adalah alasan aku masih hidup sampai saat ini. Dialah yang ngasih aku satu-satunya senjata untuk survive di panggung kehidupan ini. 

Kalau dalam mobile legend sih nama itemnya immortal, diberi kesempatan untuk hidup satu kali lagi.

Dia adalah ibuku. Tanker terbaik yang pernah saya miliki selama hidup. Mampu menahan damage yang gak masuk akal serangan dari luar. Mampu men shoutcall ketika mau nyerang maupun bertahan.

Aku tahu tahu kapasitasnya dalam mempermainkan dunia sudah ketinggalan jaman. Tak dipungkiri ibarat main game di handphone dengan ram 2gb, suka ngeframe, layar nyentuh2 sendiri, serba sulit namun dia tetap ingin memperlihatkan permainannya yang terbaik.


Saya begitu dekat dengan ibu saya. Dari kecil aku selalu dimanja.


Ketika mau berangkat sekolah, aku selalu disiapin air hangat buat mandi, disiapin sarapan, disiapin peralatan sekolah, bahkan hal yang paling simpel seperti menyisir rambutku pun masih ia lakukan sampai aku SMP. 

Dulu aku sering malu karna sering diledekin sama teman. "Udah gede masih disisirin"

Sampai aku sadar ternyata itulah cara dia menyayangi anaknya dengan kemampuannya, sesuai kapasitas dan pengetahuan yang dimilikinya. 

Dia gak belajar sama sekali ilmu parenting. Karna emang gak ada previllege. 

Long backstory, 

Ibuku tu dari kecil sudah ditinggal oleh bapak dan ibunya. Kakek saya tu seniman dalang. Beliau meninggal ditabrak lari mobil dari orang yang gak bertanggung jawab. 

Sempat diasuh sama nenek saya. Tapi ketika nenek saya meninggal, ibu saya diasuh oleh buyut. Kemudian kalau dalam bahasa Jawa di pek anak atau di adopsi oleh oranglain.

Emang agak rumit silsilah keluargaku.

Namun dari hal itu saja betapa sulitnya masa kecil yang dihadapin oleh ibu saya.

Bahkan kata beliau dulu saking gak ada makanan, hewan tokek pun pernah dia cicipi.

Jadi saya kadang penuh kemakluman kalau dia menyampaikan kasihsayangnya ke saya sesuai dengan kapasitasnya. Akan sangat egois kalau aku menuntut dia diluar kapasitas yang dia miliki.

Memanjakan saya sejak kecil merupakan bentuk kasihsayangnya. Namun hal tersebut malah justru menjadi handicap buat saya.

Saya jadi telat mendapatkan kemandirian dan kedewasaan, gak bisa disiplin, gak bisa memanage diri sendiri.

Dan yang jelas saya paling telat mendapatkan kemandirian dibandingkan umur-umur teman sekitar.


Hal itu lebih kerasa saat bapak saya meninggal dunia 2018, ibarat bahtera yang kehilangan nahkodanya, saya yang belum diberikan pemahaman bagaimana cara mengendarai nahkoda harus menggantikan peranya. Pasti oleng.


Kala itu aku sudah pasrah Dan sudah iklash menua di kota kelahiranku Gunungkidul sebagai seorang yang dianggap paling buruk sekalipun gakpapa asal saya dekat dengan yang aku sering menyebutnya dengan "the special one". Ibu saya tercinta.


Namun semakin lama hal yang aku rasakan malah semakin kacau. 

Hari demi hari aku merasa hidupku semua hanya tentang tuntutan. Mana gak ada yang nge ngendure dan bisanya cuma pada nge judge lagi.

Anjing emang.

Bosan, marah, sedih, kesal semua emosi menyatu menjadi luapan untuk keluar dari zona nyaman yang sebenarnya tidak nyaman itu, selalu muter gimana yaa caranyaa.


Disuatu malam. Ketika aku pulang ibuku tiba-tiba bilang "Lee nek kwe Melu dulurmu Sik Ng Tangerang gelem oraa"


sebenarnya restu itu yang aku mau dari dulu, belajar mandiri di perantauan.

Namun aku tau itu adalah win-win solution untuk kita malam itu, walaupun dari dua sisi pasti akan ada rasa yang amat begitu berat. Seolah keduanya ditarik oleh dua blackhole yang berbeda. Bukan keinginannya tapi memang harus dilakukan.


Tibalah hari dimana saudaraku yang di Tangerang mudik ke rumah.

Hari itu ibuku meminta izin kalau saya ingin ikut mereka, 

Dengan senang hati mereka mau menerimanya. 

Namun kala itu mereka mudik emang gak terlalu lama hanya sekitar 3hari. Sedangkan aku masih harus ngurus, SKCK dan kartu kuning untuk syarat lamaran kerja.


Esok harinya aku dengan sangat tergesa gesa mengurus itu semua.

Pagi itu aku berkata dalam hati, aku harus iklash, aku tidak boleh bersedih, aku tidak boleh nangis. Karna ketika saya selesai ngurus berkas itu semua, artinya sore hari pun aku sudah harus berangkat ke Tangerang dengan mereka.


Kala itu aku mondar mandir ngurus berkas ini itu, setelah berjibaku dengan berkas yang lumayan rumit akhirnya beberapa kelar dan tinggal ngurus surat kartu kuning.


Diperjalanan menuju kantornya di terminal selang, disepanjang perjalanan dengan sepeda motor itu tiba-tiba seolah bukan keinginanku untuk mengucapkan kalimat itu tiba-tiba keluar saja dari dalam hati "yakin?? Gak akan nangis" 

Habis dengar kalimat itu, airmataku keluar banyak banget, guwee nangis sesenggukan dijalan, sumpah muka gw jelek banget waktu itu. Bayangan saya waktu itu saya harus nangis senangis-nangisnya supaya saat berpamitan saya gak terlihat lagi bersedih. 

Iyaa memang yang saya paling benci didunia itu adalah perpisahan, saya paling gak bisa.

Akhirnya setelah semuanya selesai, sore itu aku berpamitan ke tetangga-tetangga saya doa minta restu. 

Dan saat kumpul keluarga ditempat simbah, menjelang menuju ke perantauan, saya merasa keberadaan saya tidak terlalu dianggap disana. seolah mereka hanya menjamu tamu yang akan pulang ke Tangerang. Sedangkan aku dalam bayangan mereka mungkin cuma orang yang ngerepotin.

Walaupun memang iyaa hehe. Tapi i don't know and i don't care. Kayak udah bener aja ngurusin keluarganya, "ngomong dalam ati"

Akupun gak terlalu mikirin hal itu, yang terpenting saat itu hanyalah ibuku. Just for my mom i do it.

Sampailah saat berpamitan itu datang. kami semua masuk mobil, dan didalam mobil aku sama sekali gak ingin melihat wajah ibu saya, karna sudah pasti saya gak akan kuat menahan tangis, iyaa aku gak mau terlihat cengeng dihadapan dia.

Seperti yang pernah dikatakan oleh alm. Bapak saya "lelaki cengeng tidak akan dimanjakan dunia".

Aku bersikukuh mengeluarkan semua kesedihan ini setelah sampai disana. Biar saya sendiri dan pembaca blog ini saja yang tau wkwk.

Kala itu disepanjang perjalanan rasa senang dan sedih pun bercampur aduk. Kayak ada lubang blackhole dihati saya. Saya pasrahkan kearah mana hidup ini akan membawa saya. Bisa jadi baik bisa jadi buruk. Tapi yang terpenting untuk saat itu, saya sedikit mendapatkan ketenangan. Melepaskan segala belenggu dari tuntutan2 yang mengikat. 

Walaupun tanpa target, tanpa rencana besar, dan tanpa tau hasilnya mau kek gimana.


Dan dengan pertolongan dari Tuhan yang maha baik dan berkat doa ibu juga. Semuanya berjalan menyenangkan. Walaupun pelan tapi ada kebahagiaan yang tak menetap.

cepat mendapatkan pekerjaan, punya teman baru yang gak toxic.

suatu hari aku solat subuh. saya bersujud diatas sajadah tepat jam 5..

disana akhirnya saya bisa nangis... nangis gak karuan...

jujur saya gak ngerti sama sekali soal Agama. tapi semenjak saya aktif beribadah.. saya merasa hidup saya gak kosong, saya mulai mencari hal baik dalam hidup saya..

Ternyata semuanya berjalan begitu menyenangkan. Banyak pertolongan-pertolongan yang tak terduga dari mana arahnya. 


Peran baru, ritme baru dan berjalan sendirian jadi membuatku merasa lebih jujur pada diri sendiri.

Aku jadi tau kapan harus berhenti, kapan harus melanjutkan dan kapan hanya duduk dan menikmati momen yang ada.

Saya belajar untuk pergi, agar tau jalan untuk kembali walaupun harus mencari.

Dalam bayangan hidup saya yang singkat ini menciptakan mesin waktu sama keluargaku yang kemudian bisa diputar kembali adalah salahsatu impianku.

Dan yang jelas dari sanalah saya mengerti bahwa kadang jarak itu meromantisasi hubungan. Hubungan kesiapapun  termasuk teman, keluarga, bahkan Tuhan

Karna jarak mengajari kita banyak hal.

Jarak sendiri mengajari kita untuk percaya, jarak mengajari kita untuk bersabar, dan jarak mengajari kita untuk saling menemukan.

Dan mengapa jarak begitu mengajari kita banyak hal, semua itu pasti punya alasan.

Aku yakin alasannya adalah kita.

*Ibu❤️

Bagi saya mencintai ibuku adalah interpretasi mencintai bapaku yang sudah tiada juga.

Karna dalam darah mereka terciptalah aku. Yang ada ketika isi dunia gak tau aku ada. Orang yang gak dikenal siapa-siapa. Bahkan kalau datang di reuni akbar di sekolah mungkin semua pada gak ngeh kalau aku disitu. untuk sekarang yang penting untuk diri saya adalah tidak mati konyol dan masih bisa berfikir waras saja cukup.

Jadi saya notice buat kalian yang mau membaca tulisan yang terlalu jual kesedihan dan terlalu menye menye ini.

Saya cuma ingin ngeluarin ingatan yang menumpuk dikepala. Karna kadang ada moment yang perlu diarsipkan. Makanya aku menulis.


No comments:

Post a Comment