Thursday, 25 May 2017

Harapan (Logika atau rasa)

Pernahkah kalian menonton acara di LATivi tentang bagaimana hewan elang memangsa kelinci... buaya memangsa rusa.. dlsb
Jika pernah apa yang anda rasakan...
Samakah seperti perasaan saya yang kasihan saat melihat hewan yang sedang dimangsa??
Saat saya melihat kelinci yang sedang bermain loncat2 kemudian datang sebuah elang yang memangsanya...
Saya sebagai pengamat  merasakan kasihan melihat predator dengan sangat ganas memangsa buruanya...
Tapi dalam lingkup mahkluk hidup pemahaman seperti itu cukup simple.
kita cukup dengan menyebutnya sebagai 'Rantai makanan'
Dari cerita diatas kita bisa tahu bahwa antara 'perasaan dan logika' itu berseberangan..
Sebagai contoh... saat kamu curhat ketemanmu tentang jodoh
Misalkan kamu konsultasi tentang hubungan yang berbeda keyakinan..
Lalu temanmu menyarankan bahwa jika itu terjadi... itu sangat sulit untuk dipertahankan karna alasanya bla bla bla....
Temanmu akan menyarankan dengan sangat mudah... se simple dengan mengatakan "cari yang lain saja" karna ia befikir dengan logika..
Lain halnya jika berfikir dengan perasaan mungkin kamu akan sangat keberatan akan hal itu..
Mengingat kenangan yang telah kamu lalui bersamanya dan mungkin kamu akan membohongi hati juga dengan mengikuti saran yang diberikan oleh temanmu...
Memang logika mengatakan sesimple "cari yang lain saja"
Tapi masalah perasaan tetap rumit
Saya masih percaya bahwa harapan itu kaitanya dengan rasa... kamu akan paham kenapa setiap kamu berdoa setiap harii.. mungkin untuk impian ataupun hubungan spesial dengan seseorang sampai kamu menangis-menangis memohon pada Tuhan tetap saja impian ataupun hubungan yang kalian bangun kandas..
Secara logika harapan itu ibarat pengendara bermotor yang tidak mempunyai rem saat berkendara kamu tidak bisa meloncat dari kenyataan ataupun berbalik.. hanya bisa pasrah dan mengendarai / melakukan yang terbaik  apa yang dikehendaki Tuhan..
Setiap kali jarak pasti ada rintangan dan setiap rintangan pasti ada batas..
Setiap kali harapan pasti ada proses dan setiap proses pasti ada penentuan.. berhasil atau tidakah sebuah harapan...
Berhasil atau tidak itu bukan akhir dari harapan.. itu justru baru awal....
Kalau kita hanya memakai logika saat memikirkan harapan mungkin kacaulah kita saat Tuhan memberikanmu kegagalan kamu akan cenderung mengeluh.
'Why always me' 'kenapa sudah berusaha keras tapi selalu gagal'
Harapan itu bukan kepastian kenapa harus diukur dengan logika.

sering sekali kita yakini bahwa kita adalah benar. Sehingga muncul asumsi-asumsi yang meyakini kita itu adalah yang paling benar. Kita lupa kadang-kadang bahwa asumsi kita itu belum tentu benar, kalau kita beragama seharusnya sadar bahwa kebenaran yang paling benar itu adalah dari Tuhan.dan mekanisme Tuhan tidak selalu seperti yang kamu harapkan, Dia gak mungkin mencakup semua harapanmu
ibarat saat mendatangkan hujan ia tak memilah-milah  manakah yang  akan basah, genting, pohon, daun tanah semua basah
dan saat kamu mengeluh tentang datangnya hujan karna mungkin aktivitas mu terganggu disaat bersamaan kamu tak sadar bahwa air adalah sebuah kebutuhan.

ditulisan ini
saya akan mengajak kalian bereksperimen melalui pemikiran saya, seperti kata Einstein bahwa imajinasi lebih penting daripada pengetahuan, kita berimajinasi misalkan Kalau saya menjadi presiden dan penduduk dinegara tersebut sebesar jutaan orang ,kebijakan apa yang tepat untuk penduduk saya yang sebanyak jutaan itu, kalau begitu saya harus tau profile nya orang sebanyak jutaan itu. Ini penduduk umur 14 tahun, 23tahun, 34tahun, 50tahun, agamanya apa, pendidikanya apa??,  dan seterusnya, kira-kira yang masuk kebijakan yang umur berapa ya?? Yang agamanya apa ya?? Yang pendidikanya seberapa ya?? Yang sudah siap menerima kebijakan yang mana ya??. 
 Itu tidak mungkin bisa dilakukan, yang bisa saya lakukan adalah membuat kebijakan dan merekalah yang harus adaptasi, begitu juga antara Tuhan dan manusia
makanya alam tidak memberikan belajar mekanisme dengan cara seperti itu. Alam memberikan pelajaran yaitu berupa pengalaman. Ketika di hajar kamu ambil hikmahnya atau Tidak. Ketika dihajar kamu patah atau tidak. harapan adalah guru yang paling kejam dimana dia ngasih TES duluan baru ngasih ilmunya belakangan.

nah yang dimaksud adaptasi itu siapkah kalian bahwa saat datang hujan kalian juga sadar bahwa air adalah sebuah kebutuhan. kadang kita sering lupa akan hal itu
saya meyakini bahwa harapan itu ada kaitanya dengan perasaan, tapi tindakan itu berkaitan erat dengan logika, dimana kamu tidak bisa mencampurkan keduanya
secara realistis kamu harus menciptakan sebuah harapan dimana saat melakukan tindakan logikalah yang dipakai
ibarat perasaan itu adalah dapur dari sebuah harapan, dimana didalam dapur itu ada resep atau bumbu makanan, tapi kamu tidak mungkin memberikan resep atau bumbu ketamu melainkan hidangan yang sudah jadi atau enak dimakan.

No comments:

Post a Comment