Tuesday, 30 May 2017

Keinginan dan kebutuhan

Akhir2 ini saya sering mendengar lagunya pendozha yang berjudul "cah kerjo" dari beberapa spiker aktiv yang saya dengar di rumah2 tetangga saya.
Yang saya tangkep dari Bait liriknya ialah mewakili laki-laki yang sedang sibuk kerja mempersiapkan masadepan tapi ceweknya selalu marah karna tidak mendapat kabar dari cowoknya sebentar saja...
Berhubung dengan hal itu kali ini saya akan bercerita... tapi Cerita ini hanya fiktif mohon jangan diambil hati

Baru baru ini Saya ingin mempersiapkan untuk nembak cewek yang udah cukup lama saya deketin. Tapi aku takut Respon cewek itu bakal kaget waktu saya tembak. Soalnya selama saya deket sama dia, saya nggak pernah ngegombal ataupun ngomongin soal cinta. Yang saya lakuin justru nyoba nunjukin perasaan saya dengan perbuatan nyata, misal membicarakan tentang manfaat mempelajari sesuatu karna mungkin bermanfaat untuknya walaupun bukan dengan kata cinta. Namun tampaknya dia tidak cukup peka.
Endingnya mungkin waktu saya tembak dia jawab,
"Sorry.. saya nggak bisa nerima kamu jadi pacar aku. Saya emang nyaman sama kamu, saya suka kalo kamu bawain terang bulan, dan saya suka kalo kamu isiin pulsa,. Tapi, selama ini saya cuma nganggep kamu sebagai kakak saya sendiri."

Pengalaman di atas bukan pengalaman satu-satunya saya ditolak cewek.
Eh maksut saya bukan pengalaman tapi cerita.
Dan rata-rata pada beralasan saya tidak romantis, atau saya membosankan. Mungkin itu salah saya juga, saya udah nggak seaktif zaman saya masih SMA dulu. Yang pernah rela ngutang teman hanya untuk membeli baju couple ala pasarmalem... itu cerita paling romantisku
Basuki tidak mungkin melupakanya.. dan sekarang saya jarang sekali melakukan hal romantis setelah kemarin saya membeli 2 tiket untuk mengajak perempuan datang diacara sujiwo tejo dan kemudian perempuan itu menolak hadirr..
Disaat itu juga saya berhenti nonton film romance karna kelihatan munafiknya...
Berhenti nge gombal karna kelihatan bullshitnya..
Karna kenyataanya bukan romance yang saya dapatkan... melainkan nasib ngenes karna hari terakhir sebelum pulkam uangku habis untu membeli tiket tadi, dan untuk bertahan hidup aku harus makan nasi lauknya mie instan kremes...
-_-

Dan yang intinya, sekarang "The more i get old, the more i hate bullshit".

Kadang pada salah paham, mereka ngira kehidupan saya itu membosankan atau nggak asik. Saya lurusin dulu..
Kehidupan saya itu masih asik kok, tapi sekarang sudah nggak mau lagi asik dengan cara yang penuh basa-basi.
sudah nggak suka saling muji, saat nggak ada yang layak dipuji. nggak mau ngasih harapan palsu bakal dateng ke acara tertentu di saat mereka memang nggak bisa dateng ke acara itu. Saya nggak akan buang-buang waktu untuk melakukan hal yang tidak suka.
Kejujuran semacam itu kah yang kadang kalian anggap sebagai "ketidak-asikan"?

Nggak apa-apa dibilang nggak asik, setidaknya sudah bisa membedakan mana yang diinginkan dan mana yang dibutuhkan.
Setidaknya dengan begitu menjadi tau mana yang perlu dilanjutkan, dan mana yang perlu ditolak mentah-mentah dari awal.
Loh? Apa asiknya bisa membedakan mana yang diinginkan dan mana yang dibutuhkan?
Saya bakal jelasin di bawah.

Yap, pengalaman-pengalaman ditolak itu bikin saya mikir bahwa ada banyak miskonsepsi tentang cara pemilihan pasangan yang dilakukan orang-orang.

Sesuai pengalaman saya, sebagian perempuan lebih mudah hanyut kepada laki-laki yang doyan muji mereka dibandingkan memberikan perhatian yang lebih nyata. Sebagian perempuan lebih mudah tertipu oleh kata-kata dibanding memperhatikan perbuatan orang yang berkorban untuknya. Sebagian perempuan lebih memilih laki-laki yang memberikan bunga mawar cantik kepadanya, dibandingkan pria yang memberikan jaket di saat suhu dingin melanda.
Sebagian perempuan suka dengan laki-laki karna kagum bukan karna rasa nyaman..
Faktanya, memang sebagian perempuan lebih mudah jatuh cinta kepada laki-laki yang bilang, "Cuma kamu perempuan di Bumi ini yang aku cinta. Bagiku, kamulah pusat dunia. Tanpa kamu, aku merasa bagai biji tanpa batang, nggak guna".
Dibandingkan cowok yang bilang, "Aku punya banyak prioritas dalam hidup, salah satunya adalah kamu, tapi kamu bukan yang pertama. Yang lebih utama adalah karier dan keluarga". Saya yakin sebagian cewek bakal komentar, "Dasar cowok nggak romantis!" saat dikasih pengertian semacam itu.
Tapi sebagian perempuan memang tidak nyadar bahwa gombalan atau pujian itu hal yang terlalu murah untuk didapatkan. Seorang laki-laki brengsek pun bisa ngegombalin 4, 5, atau 6 cewek berbeda dengan gombalan yang sama atau bahkan di kurun waktu yang sama.
Sedangkan perbuatan nyata meski tanpa kata cinta, adalah hal mewah yang bisa didapatkan wanita.

Nah, orang yang mencintai dengan cara MELAKUKAN SESUATU itu nggak gampang.
Hal itu menghabiskan waktu dan energi lebih banyak dibandingkan cuma menggombal.
Makanya, tukang gombal lebih gampang dapat cewek-cewek polos pecinta gombalan karena hal itu nggak melelahkan. Sedangkan cowok yang lebih suka memberi perhatian nyata, nggak bakal kuat membahagiakan lebih dari satu wanita di kurun waktu yang sama. Karena lagi-lagi, itu adalah aktivitas yang melelahkan.

Itulah kenapa rendi kalah sama jondot sublim a.k.a.. dalam bab perempuan pisss...

Rumusnya, banyak muji = banyak bohongnya. Banyak janji = banyak ingkarnya.
Jadi?? Masih doyan gombalan kah?

Sebagian perempuan memang suka dipuja.. Suka banget dikasih kejutan. Ya, sebagian perempuan sangat menginginkan kisah cinta yang mereka alami itu bakal seindah cerita di film romance atau drama korea favorit mereka.
Padahal hidup itu nggak bisa selalu romantis, bahkan lebih banyak realistis. Iya, aspek hidup yang bakal dihadapi berdua itu tidak cuma melulu soal cinta. Hidup perlu uang, perlu makan, perlu tempat tinggal, dan itu semua nggak bisa ditebus hanya dengan cinta.
Laki-laki yang bertanggungjawab cenderung membagi-bagi fokus hidupnya kepada hal banyak, untuk mengimbangkan semua aspek hidupnya. Itulah kenapa, mereka cenderung sibuk dan cuek sama pasangan di saat mereka sedang mengusahakan kehidupan yang lebih baik, mereka mungkin bakal romantis di saat tertentu. Jadi jangan harapkan pria bisa romantis setiap hari
Karna mereka juga butuh futsal untuk meningkatkan kemampuanya..
Butuh kerja untuk menggeluti hobinya..
Dan butuh waktu luang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bukan hanya terus chat2an sama pasang foto / video menawan di IG atau sosmed yang lainya hanya  agar dapat pujian dari pujaan hati.
Sebenernya nggak cuma laki-laki, sebagian cewek juga begitu. Malah, sebagian manusia pengin punya pasangan yang bagus/cantik, atau rupawan. Tapi apakah memang itu yang dibutuhkan?
Kadang dalam memilih pasangan kita lupa membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan , sampai akhirnya mendahulukan keinginan dibanding kebutuhan, yang berujung pada kegagalan hubungan.
Contohnya gini, keinginannya punya pasangan yang bagus/baik, tapi kebutuhannya punya pasangan yang perhatian. Sayangnya, pasangan yang perhatian ini nggak memiliki tampang yang bagoss. Dan anehnya, sebagai manusia kita kadang malah memilih orang yang tampangnya bagoss dibanding orang yang bertampang biasa aja namun bisa ngasih perhatian.
Nah, di titik ini artinya kita sudah mendahulukan keinginan dibandingkan kebutuhan. Akhirnya pun bisa ditebak, hubungan itu tidak bakal bertahan lama karena apa yang kita butuhkan nggak ada di dalam orang yang udah dipilih berdasarkan keinginan itu. Ya, tanpa perhatian, kita nggak bisa nyaman meskipun pasangannya rupawan.
So, dari point ini, saya mau menyarankan, ini bukan masalah cinta tapi semua aspek hidup

"Jangan cari sesuatu berdasarkan apa yang kamu MAU, tapi yang kamu BUTUH. Kamu bisa bosen sama yang kamu MAU, tapi kamu nggak bisa lepas dari KEBUTUHAN".

Itulah kenapa orang tua selalu menyarankan "kerja dulu yang benar baru jodoh menyusul" maksudnya bukan orangtua itu menggampangkan urusan jodoh ataupun memaksakan hatimu untuk berjodoh dengan sembarang orang tapi kamu harus mendahulukan kebutuhan terpenuhi dulu sebelum keinginan.

Thursday, 25 May 2017

Harapan (Logika atau rasa)

Pernahkah kalian menonton acara di LATivi tentang bagaimana hewan elang memangsa kelinci... buaya memangsa rusa.. dlsb
Jika pernah apa yang anda rasakan...
Samakah seperti perasaan saya yang kasihan saat melihat hewan yang sedang dimangsa??
Saat saya melihat kelinci yang sedang bermain loncat2 kemudian datang sebuah elang yang memangsanya...
Saya sebagai pengamat  merasakan kasihan melihat predator dengan sangat ganas memangsa buruanya...
Tapi dalam lingkup mahkluk hidup pemahaman seperti itu cukup simple.
kita cukup dengan menyebutnya sebagai 'Rantai makanan'
Dari cerita diatas kita bisa tahu bahwa antara 'perasaan dan logika' itu berseberangan..
Sebagai contoh... saat kamu curhat ketemanmu tentang jodoh
Misalkan kamu konsultasi tentang hubungan yang berbeda keyakinan..
Lalu temanmu menyarankan bahwa jika itu terjadi... itu sangat sulit untuk dipertahankan karna alasanya bla bla bla....
Temanmu akan menyarankan dengan sangat mudah... se simple dengan mengatakan "cari yang lain saja" karna ia befikir dengan logika..
Lain halnya jika berfikir dengan perasaan mungkin kamu akan sangat keberatan akan hal itu..
Mengingat kenangan yang telah kamu lalui bersamanya dan mungkin kamu akan membohongi hati juga dengan mengikuti saran yang diberikan oleh temanmu...
Memang logika mengatakan sesimple "cari yang lain saja"
Tapi masalah perasaan tetap rumit
Saya masih percaya bahwa harapan itu kaitanya dengan rasa... kamu akan paham kenapa setiap kamu berdoa setiap harii.. mungkin untuk impian ataupun hubungan spesial dengan seseorang sampai kamu menangis-menangis memohon pada Tuhan tetap saja impian ataupun hubungan yang kalian bangun kandas..
Secara logika harapan itu ibarat pengendara bermotor yang tidak mempunyai rem saat berkendara kamu tidak bisa meloncat dari kenyataan ataupun berbalik.. hanya bisa pasrah dan mengendarai / melakukan yang terbaik  apa yang dikehendaki Tuhan..
Setiap kali jarak pasti ada rintangan dan setiap rintangan pasti ada batas..
Setiap kali harapan pasti ada proses dan setiap proses pasti ada penentuan.. berhasil atau tidakah sebuah harapan...
Berhasil atau tidak itu bukan akhir dari harapan.. itu justru baru awal....
Kalau kita hanya memakai logika saat memikirkan harapan mungkin kacaulah kita saat Tuhan memberikanmu kegagalan kamu akan cenderung mengeluh.
'Why always me' 'kenapa sudah berusaha keras tapi selalu gagal'
Harapan itu bukan kepastian kenapa harus diukur dengan logika.

sering sekali kita yakini bahwa kita adalah benar. Sehingga muncul asumsi-asumsi yang meyakini kita itu adalah yang paling benar. Kita lupa kadang-kadang bahwa asumsi kita itu belum tentu benar, kalau kita beragama seharusnya sadar bahwa kebenaran yang paling benar itu adalah dari Tuhan.dan mekanisme Tuhan tidak selalu seperti yang kamu harapkan, Dia gak mungkin mencakup semua harapanmu
ibarat saat mendatangkan hujan ia tak memilah-milah  manakah yang  akan basah, genting, pohon, daun tanah semua basah
dan saat kamu mengeluh tentang datangnya hujan karna mungkin aktivitas mu terganggu disaat bersamaan kamu tak sadar bahwa air adalah sebuah kebutuhan.

ditulisan ini
saya akan mengajak kalian bereksperimen melalui pemikiran saya, seperti kata Einstein bahwa imajinasi lebih penting daripada pengetahuan, kita berimajinasi misalkan Kalau saya menjadi presiden dan penduduk dinegara tersebut sebesar jutaan orang ,kebijakan apa yang tepat untuk penduduk saya yang sebanyak jutaan itu, kalau begitu saya harus tau profile nya orang sebanyak jutaan itu. Ini penduduk umur 14 tahun, 23tahun, 34tahun, 50tahun, agamanya apa, pendidikanya apa??,  dan seterusnya, kira-kira yang masuk kebijakan yang umur berapa ya?? Yang agamanya apa ya?? Yang pendidikanya seberapa ya?? Yang sudah siap menerima kebijakan yang mana ya??. 
 Itu tidak mungkin bisa dilakukan, yang bisa saya lakukan adalah membuat kebijakan dan merekalah yang harus adaptasi, begitu juga antara Tuhan dan manusia
makanya alam tidak memberikan belajar mekanisme dengan cara seperti itu. Alam memberikan pelajaran yaitu berupa pengalaman. Ketika di hajar kamu ambil hikmahnya atau Tidak. Ketika dihajar kamu patah atau tidak. harapan adalah guru yang paling kejam dimana dia ngasih TES duluan baru ngasih ilmunya belakangan.

nah yang dimaksud adaptasi itu siapkah kalian bahwa saat datang hujan kalian juga sadar bahwa air adalah sebuah kebutuhan. kadang kita sering lupa akan hal itu
saya meyakini bahwa harapan itu ada kaitanya dengan perasaan, tapi tindakan itu berkaitan erat dengan logika, dimana kamu tidak bisa mencampurkan keduanya
secara realistis kamu harus menciptakan sebuah harapan dimana saat melakukan tindakan logikalah yang dipakai
ibarat perasaan itu adalah dapur dari sebuah harapan, dimana didalam dapur itu ada resep atau bumbu makanan, tapi kamu tidak mungkin memberikan resep atau bumbu ketamu melainkan hidangan yang sudah jadi atau enak dimakan.